ASMA AL HUSNA FOR INTERNATIONAL SUPER COP (PROGRAM MUHAMMAD YUSUF feat : POLRES KUNINGAN)
Pada hari rabu 03-06-2009, saya ikut penyuluhan bahaya narkoba dan HIV/AIDS untuk ibu-ibu Bhayangkari di Polres Kuningan. Awalnya acara berjalan biasa-biasa saja seperti penyuluhan-penyuluhan biasanya. namun di penghujung acara, ada yang luar biasa. Belasan anggota Polres Kuningan masuk dan berbaris dengan gagah di depan. Mereka mengajak semuanya berdiri. Kemudian mereka mengumandangkan asma al husna dengan begitu kompak, dipimpin langsung oleh Kapolres Kuningan. Saya sempat merasakan kembalinya ”sesuatu yang hilang” dalam jiwa saya, bahkan mata saya berkaca-kaca. Mungkin karena virus-virus dalam diri saya terscan oleh bacaan asma al husna para anggota Polres Kuningan. Dan saya pun mendapatkan inspirasi yang bagus.
ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.
Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.
Mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah suatu ilmu yang sangat agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, dan beraneka ragam buah dan manfaatnya.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullâh, “Makhluk yang paling Dia cintai adalah siapa yang bersifat dengan konsekwensi dari (Al-Asmâ` Al-Husnâ itu). Dan (makhluk) yang paling Dia benci adalah siapa yang bersifat dengan kebalikan dari (Al-Asmâ` Al-Husnâ itu). Karena itu (Allah) membenci orang yang kafir, zholim, jahil, keras hatinya, bakhil, penakut, hina, dan bejat. Sedang (Allah) Subhânahu adalah Jamîl (Maha indah, elok) cinta kepada keindahan, Alîm cinta terhadap ulama, Rahîm cinta kepada orang yang merahmati, Muhsin (Maha Memberi kebaikan) cinta kepada orang yang berbuat kebaikan, Syakûr (Maha Pembalas Jasa) cinta kepada orang yang bersyukur, Shabûr (Yang Maha Sabar) cinta kepada orang yang bersabar, Jawwâd (Maha Dermawan) cinta kepada orang-orang yang dermawan dan berbuat kebajikan, Sattâr cinta kepada As-Sitr, Qodîr mencela kelemahan -“dan mukmin yang kuat lebih Dia cintai dari mukmin yang lemah”, Afuw (Maha Pemaaf) cinta kepada sifat pemaaf, dan Witr (Yang Maha Satu) cinta kepada yang witir. Setiap yang dicintai oleh Allah maka itu dari pengaruh nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan konsekwensinya. Dan setiap yang Dia benci maka itu dari apa yang bertentangan dan berlawanan dengannya.”
Dalam tubuh manusia ada semacam angkatan kepolisian dan organisasi intel kepolisian yang tersebar di seluruh tubuh. Pada sistem ini terdapat juga kantor-kantor polisi dengan polisi penjaga, yang juga dapat menyiapkan polisi baru jika diperlukan. Sistem ini adalah sistem limfatik dan kantor-kantor polisi adalah nodus limfa. Polisi dalam sistem ini ada-lah limfosit.
Sistem limfatik ini merupakan suatu keajaiban yang bekerja untuk kemanfaatan bagi umat manusia. Sistem ini terdiri atas pembuluh limfatik yang terdifusi di seluruh tubuh, nodus limfa yang terdapat di beberapa tempat tertentu pada pembuluh limfatik, limfosit yang diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli di sepanjang pembuluh limfatik, serta cairan getah bening tempat limfosit berenang di dalamnya, yang bersirkulasi dalam pembuluh limfatik.
Cara kerja sistem ini adalah sebagai berikut: Cairan getah bening dalam pembuluh limfatik menyebar di seluruh tubuh dan berkontak dengan jaringan yang berada di sekitar pembuluh limfatik kapiler. Cairan getah bening yang kembali ke pembuluh limfatik sesaat setelah melakukan kontak ini membawa serta informasi mengenai jaringan tadi. Informasi ini diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada pembuluh limfatik. Jika pada jaringan mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini akan diteruskan ke nodus limfa melalui cairan getah bening.
Jika setelah pengamatan atas sifat-sifat musuh ini terdeteksi adanya bahaya, maka dikeluarkan tanda bahaya. Pada tahap ini, di nodus limfa dimulailah produksi limfosit dan sel prajurit lainnya dengan sangat cepat.
Setelah tahap produksi, prajurit baru diangkut ke garis depan medan perang. Prajurit baru ini berjalan dari nodus limfa ke pembuluh limfatik melalui cairan getah bening. Mereka berdifusi ke dalam aliran darah dari pembuluh limfatik, dan akhirnya sampai di medan perang. Inilah sebabnya nodus getah limfa pada daerah yang terinfeksi membengkak ter-lebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa produksi limfosit pada daerah tersebut meningkat.
Sekarang, coba kita ringkas sistem ini:
- Suatu transportasi khusus yang meliputi seluruh tubuh.
- Stasiun nodus limfa yang tersebar di daerah berbeda di seluruh tubuh.
- Operasi intel yang ditujukan terhadap sel-sel musuh.
- Produksi prajurit sesuai dengan hasil laporan intel.
Sistem ini akan ambruk jika kehilangan salah satu saja dari elemennya. Dan mustahil baginya untuk berasal mula dari pengembangan bertahap sepanjang waktu. Misalnya, suatu sistem dengan limfosit dan nodus limfa tetapi tanpa pembuluh darah limfatik akan menjadi tak berguna. Sistem ini akan bekerja baik hanya jika semua elemennya tercipta secara simultan.
Sebagaimana yang telah saya singgung dalam halaman satu dunia, satu tubuh yang satu induk dengan halaman ini, saya menganggap manusia adalah sel-sel tubuh saya. karena saya ingin sehat, maka saya harus mengoptimalkan potensi sel-sel tubuh saya agar tugas mereka semakin baik dalam mengatasi penyakit-penyakit saya. semakin cepat penyakit saya hilang, semakin baik.
Asma al Husna Sumber Kekuatan Manusia
Kini, ijinkanlah saya mencoba memberi suatu penjelasan yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi para polisi untuk mengembangkannya. Berikut ini adalah beberapa sofware dalam sistem operasi asma al husna yang seharusnya dimiliki oleh para polisi. Sofware yang saya maksud adalah karya Allah langsung, bukan kecanggihan sofware karya Allah via manusia. Sofware-sofware ini secara otomatis menscan dulu semua virus yang ada.
al-Qawiyy, Yang Maha Kuat
Pada Induk halaman (Khalifah alam semesta dan setan), saya telah menjelaskan sedikit tentang kehebatan seorang manusia. Bayangkan, kekuatan satu malaikat saja cukup untuk meluluhlantakan planet bumi, apalagi kekuatan seorang manusia yang lebih mulia dari malaikat?
Ketika Mi’raj, Nabi Muhammad hanya memerlukan waktu satu malam untuk naik ke langit dan turun ke bumi. Total jarak selama perjalanannya mungkin bisa mencapai jutaan triliun tahun cahaya. Mestinya baja sekalipun mencair apabila dipaksa menempuh perjalanan sedemikian jauh dengan waktu hanya satu malam. Apalagi harus menghadapi gas-gas berbahaya yang berada di sekitar luar angkasa tanpa perlengkapan yang biasa digunakan oleh para astronot.
Yang perlu dipertanyakan saat ini, mengapa kita tidak mampu mengangkat barang seberat seribu ton, padahal di dalam diri kita ada alam semesta dengan berat total lebih dari bermilyar-milyar triliun ton? Betapa hebatnya jika kaum muslimin dapat menemukan cara memanfaatkan potensi kekuatan maha dahsyat yang diberikan Allah kepada mereka.
Tentunya satu orang polisi saja cukup untuk menghadapi seluruh pasukan penjahat yang ingin mengacaukan dunia. ”Dan pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adzariat : 21) ”barangsiapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya (al-Hadist).
Insya Allah, jika para polisi kita telah menginstall/terinstall/diinstallkan sofware al-Qawwiyy, dunia ini aman.
Jika seluruh informasi buku perpustakaan di dunia atau seluruh informasi jaringan telekomunikasi di dunia dimasukkan ke dalam otak, otak manusia tidak akan penuh.
Jika setiap detik dimasukkan 10 informasi sampai kita meninggal, ke dalam otak kita, misalnya sampai umur kita 100 tahun, maka otak manusia belum terisi separuhnya, sungguh fantastis..
Kapasitas otak manusia adalah angka satu diikuti angka nol yang panjangnya 10 pangkat 5 juta kilometer. Deretan nol sepanjang 10 pangkat 5 juta kilometer adalah sebanding dengan perjalanan bumi ke bulan sebanyak 14 kali pulang pergi.
Potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 0,0001% dari potensi otak manusia yang sesungguhnya. Para ahli jiwa pada tahun 1950 meneliti bahwa potensi otak manusia yang digunakan rata-rata hanya sekitar 50%, pada tahun 1970 sebesar 10%, tahun 1980 sekitar 1%, dan tahun 1990 yaitu 0,01%. Saat ini rata-rata potensi otak manusia yg digunakan kurang lebih 0,0001%.
Otak merupakan komputer yang paling hebat yang dimiliki manusia. Dengan kekuatan pikiran (the power of mind), manusia mampu melakukan banyak hal. Nah, Anda dapat membuat program terhadap diri Anda sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Anda ingin sukses buatlah programnya dan tanamkan program-program itu ke dalam pikiran bawah sadar Anda. Sebagaimana Anda meng-install program pada sebuah PC.
ar-Raqiib,Yang Maha Mengawasi
Dengan sofware ini, polisi dapat menjadi pengawas yang hebat dan tepat sasaran. Sofware ini dapat mendeteksi mana penjahat mana orang baik dengan sangat canggih. Meskipun bersorban, berdasi, jika dia penjahat maka akan terdeteksi dan meskipun bertatto, berwajah sangar, jika dia orang baik, maka polisi mengetahuinya. Pandangan matanya dapat mengawasi alam semesta miliknya secara detail. Udah deh, kecanggihan pandangan Robocop gak ada apa-apanya.
al-Waliyy,Yang Maha Melindungi
Dengan sofware ini, polisi betul-betul menjadi pelindung yang membuat yang dilindungi merasa aman. Cukup satu orang polisi yang jadi pengawal presiden. Sinyal bahaya selemah dan sejauh apa pun akan terdeteksi.
al-Hamiid, Yang Maha Terpuji
Meskipun hebat, tapi polisi diprogram agar serba terpuji. Selemah apa pun sinyal tak terpuji, secara otomatis langsung terscan dan terdelete.
al-Mubdi’, Yang Maha Memulai
Jika ada tindakan kriminal, Spiderman adalah yang paling dulu ke TKP. Dengan sofware ini, polisi bisa jutaan kali lebih baik dari Spiderman. Memang, sekarang para polisi selalu datang paling belakang tapi mudah-mudahan di masa depan, mereka yang paling duluan. Tiba di TKP, secara otomatis sofware-sofware pendukung teraktifkan. Mengawasi, melindungi, menemukan, mencegah, dan lain-lain.
al-Qayyuum, Yang Maha Mandiri
Dengan sofware ini, polisi tak perlu menunggu bantuan datang. Semuanya dilakukan serba mandiri. Mungkin kita perlu menonton kembali Film The Matrix yang berdasarkan Neurosains. Butuh apa-apa, minta kepada Allah, langsung ada. Butuh senjata, langsung dikirim miliaran senjata. Tinggal pilih.
al-Waajid, Yang Maha Menemukan
Dengan sofware ini, apa yang dicari pasti ditemukan. Sekarang jika ada kejadian, polisi cari informasi, barang bukti, saksi, dan sebagainya agar nanti tidak melanggar hukum. Mudah-mudahan di masa depan, polisi datang dan langsung menemukan segalanya tanpa ada keraguan seperti kita tidak ragu kepada data yang dihasilkan oleh sofware. Kalkulator buatan manusia saja tak pernah salah hitung. Kemampuan polisi seperti ini jutaan kali lebih hebat dari kemampuan Google Search Engine.
al-Maajid, Yang Maha Mulia
Selemah apa pun sinyal kehinaan dalam diri dan diluar diri, langsung terdeteksi, terscan dan terhapus.
ash-Shamad, Yang Maha Dibutuhkan
Dengan sofware ini, polisi tau apa yang sangat dibutuhkan darinya oleh masyarakat dan hidup tepat sesuai yang dibutuhkan.
azh-Zhaahir Yang Maha Nyata
al-Baathin, Yang Maha Gaib
ini adalah sofware yang harus dimiliki oleh intel agar penyamarannya betul-betul ghaib, tak bisa terdeteksi.
al-Waalii, Yang Maha Memerintah
al-Muntaqim, Yang Maha Penyiksa
al-’Afuww,Yang Maha Pemaaf
al-Muqsith, Yang Maha Adil
al-Jaami’, Yang Maha Pengumpul
al-Maani’, Yang Maha Mencegah
adh-Dhaarr, Yang Maha Pemberi Derita
an-Naafi’, Yang Maha Pemberi Manfaat
al-Haadii, Yang Maha Pemberi Petunjuk
al-Badii’, Yang Maha Pencipta
ash-Shabuur, Yang Maha Sabar
Terapi Asma al Husna
Ary Budiyarto menulis artikel berjudul Metode Terapi Asma al Husna dalam blognya (arebuud.blogspot.com) : “Telah sangat biasa dikalangan umat Islam untuk membaca/mewiridkan Asma’ al-Husna. Sebagian yang lain menggunakannya sebagai bagian dari doa. Kalau ingin meminta pengampunan kepada Allah biasanya menggunakan lafadz al-Ghafur (yang maha pengampun). Biasanya dengan ditambahi Nida’ (pengundang/kata panggil) “Yaa”, hingga artinya menjadi “Wahai Sang Maha Pengampun”, sebagai ucapan pujian kepada Allah. Hal ini pun di diterangkan dalam al-Qur’an surat al-A’raf: 180, yang terjemahannya “Allah memiliki asma-asma (nama-nama) yang bagus, maka berdoalah dengannya”.
Didalam Asma’ al-Husna ini, juga merupakan pengejawantahan dari sebagian sifat-sifat Allah Swt. Dan siapapun, entah itu orang Islam maupun non-Islam kalau memahami makna dari sifat-sifat Allah tersebut pasti akan mengakui bahwa di dalam nama-nama itu terdapat sifat-sifat yang bagus. Seandainya setiap manusia didunia ini memiliki sifat-sifat itu pasti dunia ini akan senantiasa damai sentosa.
Dan dalam sebuah Hadits Nabi Saw. pun diterangkan, beliau memerintahkan: “Takhallaquu bi akhlaaqillah” (berakhlaklah dengan Akhlak Allah). Karena memang dalam akhlak Allah terdapat akhlak-akhlak, yang apabila kita mencontohnya, kita akan mampu menjadi Insan Kamil (manusia sempurna).
Tapi sayangnya, sebagian besar dari kita, umat manusia, hanyalah benar-benar memiliki beberapa saja. Memang, dalam fitrahnya, setiap manusia sudah diperlengkapi dengan semua sifat itu. Tapi, seiring perkembangan kita, sifat-sifat itu menjadi tidak setabil lagi, akibat pergesekan dengan berbagai hal. Ada semacam ketidak seimbangan dalam sifat-sifat kita. Sebagian sifat terlalu mendominasi, sedangkan sifat yang lain terlalu minimal.
Akibatnya, ada ketidakseimbangan sifat. Itulah yang menyebabkan kita menjadi orang yang korup, licik, pemarah, egois, kejam, apatis, pemalas, tidak konsekuwen, terlalu pasif, pemurung, dan lain sebagainya, masih banyak lagi sifat-sifat yang tidak baik yang kita miliki.
Untuk itu, dari sedikit yang saya pahami tentang Asma’ al-Husna, saya ingin berbagi, disamping sayapun juga ingin belajar untuk menerapkannya pada diri saya sendiri.
Sebagian dari kita dalam mewiridkan Asma’ al-Husna hanya sampai tahap kulit saja. Dalam artian, hanya mewiridkan lafadznya, tanpa menghayati maknanya. Untuk menjadikan Asma’ al-Husna menjadi terapi anti error pada pribadi kita, diharuskan memahami maknanya dulu sebelum mewiridkan lafadznya. Karena, kalau kita tidak memahami maknanya, bagaimana Asma’-sifat yang terkandung dalam Asma’ al-Husna dapat merasuk dalam diri kita.
Jadi sebelum mewiridkan, mutlak harus memahami makna Asma’ yang akan diwiridkan, sedalam-dalamnya. Hingga kita benar-benar memahami maknanya, kalau perlu ditanyakan kepada ahlinya.
Dalam memahami makna yang terkandung dalam Asma’ al-Husna pun, tidak harus semuanya, sebagian yang memang diperlukan saja sudah cukup, untuk sementara waktu. Ambil mana yang kita butuhkan, kemudian pahami maknanya, hayati, wiridkan, jadikan watak kita, dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling inti, jadikan Asma’ itu
menjadi kepribadian kita.
Perbedaan teori yang saya utarakan tentang Asma’ al-Husna, untuk dijadikan terapi bagi watak-watak buruk kita dengan teori-teori lain, terdapat pada pengambilan Asma’ yang akan di wiridkan. Yaitu dengan metode “anti error”. Jadi Asma’ yang kita ambil dan wiridkan untuk terapi hanyalah Asma’ yang memang kita perlukan saja.
Dan semua tergantung apa watak yang kita anggap kurang baik (terlalu over), karena sesungguhnya semua watak itu baik kalau seimbang. Kemudian kita cari lawannya dalam Asma’ al-Husna. Kita pahami Asma’ itu, hayati, jadikan watak kita, terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai perumpamaan, seandainya kita memiliki watak yang terlalu kejam. Tidak merasa sedih saat melihat penderitaan orang. Terlalu individual. Hal itu dapat diterapi dengan beberapa Asma’ yang menjadi lawannya. Seperti lafadz “Ya Rahman”(wahai sang maha pengasih), “Ya Rahim”(wahai sang maha penyayang), “Ya Salaam” (yang maha memberi kesejahteraan), dan lain sebagainya yang menjadi lawan dari watak kejam itu.
Dan itupun tidak perlu langsung sekaligus banyak lafadz yang digunakan. Bisa hanya menggunakan lafadz “Ya Rakhman” saja. Yang penting kita enjoy setiap melafadzkan, di bibir ataupun hanya di hati saja. Kita benar-benar enjoy saat melafadzkannya. Bisa menikmati penghayatan dari lafadz itu.
Tapi tidak sekedar melafadzkan, yang paling penting adalah penghayatannya. Sehingga makna dari lafadz tersebut bisa menjadi watak kita. Dan itu dilakukan setiap saat. Bukan hanya sehabis shalat, tapi setiap saat. Yang paling penting adalah wirid hati, bukan lisan. Tapi menggunakan lisan lebih baik. Karena lisan adalah setater hati.
Tapi, ingat bagi yang berwatak kejam, jangan sampai di terapi dengan lafadz seperti “Ya Jabbar” (yang maha perkasa), “Ya Qahhar (yang memiliki sifat memaksa”, karena justru orang yang diterapi malah bisa menjadi orang yang lebih kejam lagi.
Sedangkan lafadz “Ya jabbar tadi cocok diterapikan pada orang yang minder, lemah dan lain sebagainya. Lafadz “Ya Qahhar” lebih cocok diterapikan pada orang yang terlalu lembek dalam mengambil sikap”.
Orang yang sombong jangan diterapi dengan Asma’ “Ya Mutakabbir” (yang maha memiliki sifat megah), karena malah bisa lebih sombong lagi. Tapi diterapi dengan lafadz seperti “Ya Syakur” (yang maha pembalas budi/menghargai) dan Asma’-asma’ lain yang lebih cocok.
Dan masih banyak lagi dalam Asma’ al-Husna, yang sangat efektif untuk memperbaiki pribadi kita. Benar-benar sangat banyak. Kalau kita kesulitan untuk memahami makna terdalam dari Asma’ al-Husna, disarankan untuk bertanya kepada ahlinya. Supanya kita benar-benar bisa memahami apa yang akan kita terapikan pada diri kita sendiri ataupun orang lain.
Dan sekali lagi yang paling penting adalah, wirid tidak hanya di lisan tapi juga harus dihati, dihayati, dijadikan watak kita, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Assalamu’alaikum…. Alhamdulillah bisa bersilaturahim meski lewat dunia maya.
Begitu besar dan banyak keajaiban yang telah dihadirkan oleh kebesaran Al Asma Al Husna. Allahu Akbar
waalaikum salam.. salam kenal pak, sampaikan salam saya kepada Kapolres Kuningan beserta jajarannya.
Artikel ini ada di ebook terbaru saya, silahkan didownload
http://www.scribd.com/doc/20109964/EBook-Islam-Therapy-Edisi-Remix-2009