“Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling (Out Reach) di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia (agar menjauhi prilaku beresiko terinfeksi HIV/AIDS).
(HR. Ath-Thahawi)
Out reach atau penjangkauan adalah bagian dari program Harm Reduction. Tugas dari Petugas penjangkau adalah berkeliling mengunjungi orang-orang yang beresiko terinfeksi HIV/AIDS. Harm Reduction itu sendiri adalah suatu upaya mengurangi dampak buruk perilaku beresiko dengan tahapan-tahapan tertentu. Jika orang yang beresiko itu adalah pengguna narkoba suntik, maka kita ajak dia berhenti total menggunakan narkoba jarum suntik. Tentunya sifat manusia berbeda-beda. Ada yang mau sadar namun tak sedikit yang terus menggunakan narkoba jarum suntik.
Di satu sisi, Kita tak mungkin memaksa orang lain agar berhenti total menggunakan narkoba jarum suntik sedangkan di sisi lain, kita harus mencegah penularan HIV/AIDS. Maka kita gunakan tahapan selanjutnya. Jika dia masih menggunakan narkoba jarum suntik, maka agar tidak terjadi penyebarluasan HIV/AIDS di antara pengguna narkoba jarum suntik yang biasanya suka berbagi insul (satu insul dipakai beramai-ramai), kita berikan dia insul agar tidak lagi berbagi dengan teman-temannya. Tentunya ada aturan-aturan tertentu dalam pembagian insul.
Demikian pula halnya dengan orang yang beresiko tertular HIV melalui perilaku seks bebas. Kita sadarkan dia agar berhenti. Namun jika tak mau berhenti, maka kita berikan kondom untuk meminimalisir penyebarluasan HIV. Pemberian kondom juga ada aturannya, bukan asal memberi.
Mohon maaf jika Anda yang beragama Islam menyatakan bahwa pemberian kondom adalah upaya melegalkan perzinaan. Pertanyaan saya, sudahkah Anda memahami konsep Harm reduction? Saya selaku penyusun program Islam Therapy yang saat ini sedang ikut melaksanakan program Harm Reduction beserta sebagian besar pelaksana program Harm Reduction di Indonesia sepakat menyatakan bahwa kami tidak melegalkan perzinaan dengan membagikan kondom. Kami hanya berusaha memutus rantai penyebaran HIV yang mana dalam satu hari di dunia, ada 14.000 orang baru terinfeksi.
Dulu, dan mungkin inilah hikmah dari hukum rajam, pelaku perzinaan masih jarang sementara sekarang, pelaku zina ada di mana-mana. Kalau semuanya dirajam, berapa juta manusia yang harus kita rajam? Jika umat manusia melaksanakan hukum rajam sejak dahulu, mungkin jumlah pelaku zina saat ini sedikit dan wabah HIV/AIDS tak akan se-mengerikan ini. Tetapi kenyataan ini harus kita terima dan satu-satunya jalan adalah semua manusia harus bekerjasama menanggulangi wabah HIV/AIDS. Saat kita sibuk berdebat dan saling menyalahkan, mungkin jutaan orang di seluruh dunia terinfeksi HIV dan ribuan orang sedang meregang nyawa akibat HIV/AIDS.
Biar pun saya orang yang bodoh tentang agama, setidaknya saya pernah menjadi santri kurang lebih 14 tahun lamanya. Saya lebih mengerti agama setelah ikut berjuang menanggulangi masalah Narkoba dan HIV/AIDS. Saya jadi tahu bahaya melanggar ajaran-ajaran Islam. Terutama setiap saya melihat tayangan-tayangan bagaimana narkoba dan HIV merusak tubuh manusia, hati saya bergetar.
Saya membebaskan diri dari fanatisme buta terhadap apa pun. Misalnya, meski pun basis program saya adalah agama Islam, saya tidak mau menyatakan bahwa setiap program Islami pasti benar. Bahkan dalam program Islam Therapy, ada program Islami yang saya sendiri tak berani mengikutinya karena saya tahu efek buruk yang akan merusak fisik dan mental saya sehingga saya anggap meski pun program tersebut terkenal, namun efek buruknya menjadikan dakwahnya sia-sia karena hanya menyadarkan pesertanya sesaat saja.
Berikut ini adalah beberapa hadist yang saya tafsirkan dari sudut pandang Out Reach untuk para petugas penjangkau.
“Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling (Out Reach) di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia (agar menjauhi prilaku beresiko terinfeksi HIV/AIDS).
(HR. Ath-Thahawi)
Yakinlah bahwa ketika Anda sedang Out Reach, Anda sedang berbakti kepada Agama, Bangsa, dan Negara. Bersyukurlah kepada Allah atas karunianya yang memilih Anda menjadi orang yang sedang menyelamatkan orang lain. Kenapa saya sebut karunia? Banyak orang yang lebih berpotensi jadi P.O tapi tidak Allah pilih, banyak orang yang lebih kaya tapi tidak Allah pilih, banyak orang yang berilmu tapi tidak Allah pilih jadi P.O. sementara kita yang sebetulnya tidak berpotensi, miskin, tak berilmu, tapi Allah pilih jadi P.O. dan Allah mendidik kita agar menjadi P.O yang baik dengan mengikutkan kita pada pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Pemerintah seperti Dinkes, BNN, Dinsos, dan sebagainya. Allah bina kita dengan memberikan masalah-masalah dan pengalaman-pengalaman di lapangan sehingga kita yang mau dibina oleh Allah akan menjadi P.O sejati, dan lain-lain.
Apabila Allah memberi hidayah (menjauhi prilaku terinfeksi HIV/AIDS) kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya.
(HR. Bukhari).
Permudahlah (segala urusan), jangan dipersulit dan ajaklah dengan baik, jangan menyebabkan orang menjauh.
(HR. Bukhari)
Jangan mengagumi amal perbuatan (out Reach) sampai ia menyelesaikan yang terakhir.
(HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar)
Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar (Petugas Out Reach) kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah-lembut dalam menyuruh dan dalam melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang.
(HR. Ad-Dailami)
Jangan meremehkan sedikitpun tentang makruf (Out Reach) meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum).
(HR. Muslim)
Pada hari kiamat seseorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, “Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar (Petugas Out Reach)?” Orang tersebut menjawab, “Ya benar, dahulu aku menyuruh orang lain berbuat ma’ruf (menjauhi prilaku beresiko), sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar (melakukan prilaku-prilaku beresiko) sedang aku sendiri melakukannya.”
(HR. Muslim)
Tak sedikit P.O yang bicara tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS tapi dirinya sendiri masih mengkonsumsi narkoba dan berperilaku beresiko. Tentunya ini bukan masalah internal di kalangan P.O saja, namun ini juga terjadi pada kelompok lain seperti penceramah, ahli kesehatan, aparat kepolisian, dan lain-lain. Misalnya, banyak ahli kesehatan yang mengajak orang lain berperilaku hidup sehat padahal dirinya sendiri tidak mengamalkan kebaikan yang dia sampaikan pada orang lain. Wallahu a’lam (Muhammad Yusuf)
Maaf, artikel ini belum selesai